Posts

Syukur

Kau bilang itu syukur? Mana, sedekahmu? Yang sebenarnya hanya ingin membawa nama besarmu. Mana, shalatmu? Yang hanya di rakaat pertama mengingat Allah, selanjutnya bercabang memikirkan banyak hal. Sekaliber Nabi Ibrahim, disebut Allah hanya kurang dari 10 kali bersyukur. Yang diminta Allah meninggalkan istrinya sendirian, yang diminta menyembelih anaknya… Maka jangan heran bila Rasulullah sampai bengkak berdarah dalam shalat, hanya karena ingin bersyukur pada Allah. Kau bilang sudah bersyukur? Anak nangis mengeluh, tumpah makanannya mengeluh. Makanan kurang pedas mengeluh, jemuran ga kering mengeluh, anak-anak berulah mengeluh… Tanpa sadar kita terus mengeluh atas nikmat-Nya. ...fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadzdziban… Maka memang kau ini sangat sedikit sekali bersyukur ...qaliilan maa tasykuruun... ---- ZERO COMPLAIN💪 ---- (Makjleb kajian tafsir Ustadz MY di youtube😔) #TantanganRumlitIPBekasi #DiariIbuProfesional #CeritaIbu #Cer...

Memilih Ibu di Masa Jahiliyah

Image
Dua minggu yang lalu, buku pesananku sudah mendarat cantik dirumah. Buku Biografi Istri dan Putri Nabi. Dan baru hari ini ku mulai membacanya.😁 Aku langsung tertarik pada pembukaan buku ini. Mengenai sifat wanita dan kedudukan seorang ibu dikawasan semenanjung Arab sebelum Rasululullah dilahirkan. Cerita yang banyak ku dapat saat kuliah, masa sebelum Rasul lahir adalah masa jahiliyah. Kejahiliyahan bangsa Arab terhadap wanita yaitu hanya menganggap wanita sebagai barang yang dinikmati seorang lelaki, bisa berganti-ganti sesukanya, juga anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup, dan fenomena hina lainnya. Tapi yang disajikan  dalam buku ini sedikit berbeda, ada beberapa tulisan dari para ahli sejarah yang menunjukkan adanya semangat bangsa Arab untuk menjaga kemuliaan nasab, kesucian keluarga, dan kejernihan asal-usul, meski mereka berada di era jahiliyah. Sehingga tidak semua wanita saat itu tergolong hina, namun ada juga sekumpulan wanita mulia, dan pandai menjaga di...

Air Oh Air

Satu bulan sudah air PDAM mengalir begitu sangat kecil dirumahku. Air dan baju kotor balapan, setiap hari hanya bisa cukup satu kali mencuci, air membilasnya ditampung lagi sampai besok. Akhirnya laundry terpaksa dipilih untuk sebagian cucian yang sudah menumpuk. Untuk mandi pun, sebagian terpaksa membeli air isi ulang, air tampungan tak cukup untuk mandi dan keperluan istiharah empat orang sekaligus. Satu galon 6000 rupiah, sekali pesan bisa 2-3 galon sehari. Akhirnya, pagi ini lapor ke kantor PDAM Bekasi, petugas langsung datang kerumah memeriksa siang harinya. Alhamdulillah sekarang air sudah normal kembali. Ternyata ada kerusakan di bagian saluran air. Ada yang harus diganti, 350.000 rupiah harganya, dibebankan pada konsumen. Saya ambil 400.000 rupiah, untuk sekalian ongkos petugasnya. Namun sayang, tidak ada nota resmi dari PDAM mengenai harga resmi alat yang dibeli tadi. Saya pun tidak memintanya. Saat aku kecil, air PDAM dipakai sebagai sumber air minum dirumah. Tapi ...

Manusiawi VS Imani

Saat itu ada seorang muslimah yang bertanya, “Bagaimana cara me- manage emosi, ketika kita sedang PMS atau haidh di hari-hari pertama, karena biasanya emosi jadi tidak stabil, dan yang terkena dampaknya adalah anak dan suami kita” Masih terngiang dalam ingatan saya, jawaban kalimat pertama ustadzah Oni, “sesuatu yang manusiawi jangan sampai mengalahkan yang imani” Kalimat sederhana yang maknanya sangat dalam dan luas, serta pas sekali dengan fenomena zaman sekarang. Baby blues adalah contoh lainnya. Baby blues memang sesuatu yang manusiawi, namun jangan sampai berlebihan seperti seorang muslimah yang tak beriman. Sedangkan kita tahu bagaimana Allah memberikan begitu banyak petunjuk dan keutamaan menjadi seorang ibu. PMS itu manusiawi, namun jangan sampai menjadi alasan kita boleh marah atau boleh emosi di depan suami dan anak-anak kita. Sedangkan kita sudah paham bagaimana Rasulullah mengajarkan tentang marah. Semoga Allah menguatkan kaki para istri dan para ibu untu...

Sekolah Lesehan itu Menyenangkan

Image
Bulan November ini, genap lima bulan sudah aku mengajar di sekolah TK. TK Waladun Sholeh namanya. Ya, baru lima bulan, sebuah pengalaman baru yang menyenangkan. Dari kecil, cita-citaku memang ingin menjadi guru, “tapi bukan guru TK” kilahku saat itu. Manusia berencana, Allah yang menentukan, siapa sangka pada akhirnya ku harus mengajar anak-anak TK. Dua putrikulah motivasi terbesar hingga aku mau menjadi guru TK. Sekolah tempat ku mengajar duduknya lesehan, hanya ada meja-meja kecil untuk masing-masing anak, tidak ada bangku. Ternyata dengan cara lesehan ini punya kelebihan tersendiri. Yaitu kita menjadi dekat dengan anak. Anak-anak sering minta dipangku oleh guru, dipeluk anak dari belakang, kadang anak juga bersandar manja sambil mengalir cerita dari bibir mungilnya. Saya pun teringat dengan masa-masa TK saya dahulu. Karena bukan lesehan, kesempatan untuk minta dipangku atau gelendotan dengan ibu guru tidak ada. Bahkan memeluk pun sulit, karena perbedaan tinggi. Saat itu, inte...