Posts

Showing posts with the label ayah

Buku Agenda Isyarat dari Ayah

Image
tak biasanya ia memberiku semacam buku agenda, dari kantornya, waktu itu awal tahun 2007, aku senang karena modelnya yang berupa kotak-kotak bertanggal membuat lebih mudah mencatat segala kegiatan kampus.   namun... Mei 2007,  menjadikan buku itu sebagai buku agenda pertama dan terakhir untuk ku... #menyambut Mei, bulan segala kenangan tertulis,aku dan ayah *Ramadhan bentar lagi euy :)

Pohon Jeruk Ayah

Salah satu hobi ayah ku memang menanam, hobi yang tidak menurun pada anak-anaknya. Sehingga tak ada tanaman baru dirumah kami sejak kepergian ayah 4 tahun yang lalu, merawat yang telah ada pun masih malas-malasan terutama aku yang sering berada dirumah dan anak perempuan satu-satunya, duh maaf ya ayah. Walaupun jarang dirawat, tanaman ayah  belum ada yang mati, bahkan kadang berbunga juga. Ayah memang termasuk seorang pekerja keras, kalau hari minggu yang merupakan satu-satu nya hari libur, beliau masih tidak bisa diam. Merapikan tumpukan kertas, mencuci motor, membersihkan debu-debu, atau merawat tanaman. Hobinya menanam ku lihat dari seringnya ayah memberhentikan tukang tanaman yang pas lewat depan rumah. Entah membeli pupuk atau mengganti tanah, atau membeli tanaman baru. Dan setelah membeli, ibu biasanya kesal karena harganya yang mahal karena ayah tidak menawarnya, hehehe dari dulu sampe sekarang sama ya, laki-laki itu tidak pandai berbelanja. Aku tak tahu kapan...

Mbah Kung Juara Satu

entah kenapa hati ini selalu sedih kala mengingat ayah...seperti saat itu dalam perjalanan setelah berkunjung dari Jakarta Fair. Perjalanan menyusuri jalur tanjung priok-bekasi. jalur yang setiap hari dilalui ayah dengan vespa merahnya, yang setiap pagi harus di sela beberapa kali agar bisa berderu. tak jarang juga mati mesinnya ditengah jalan, terbayang ayah sedang menuntun vespa dengan tubuhnya yang kecil dan melelah. sekian tahun, mengapa diri ini baru menyadari jauhnya dan begitu harus payahnya perjalanan ayah untuk bekerja demi sebuah keluarga kecilnya. tergambar wajah yang mengerut namun tetap tegas menyusuri jalan bekasi-tanjung priok, yang malamnya saat perjalanan pulang lebih sering berdampingan dengan truk-truk barang kontainer, yang mungkin tersenggol sedikit saja maka.. ah ayah, kenangan bersamamu masih saja terngiang dalam pikiran anak perempuanmu ini. ketika kau tak pernah menolak saat di minta mengajari PR matematika walaupun kau sedang asik membaca atau menonton, dan ...

H-2 Milad qu

untuk yang diam-diam mencintaiku, untuk yang berbisik membanggakanku, untuk yang selalu membuatku mudah, untuk yang membuatku selalu nyaman berada di barisan ini, untuk yang tak pernah memarahiku, untuk yang tak pernah melarangku, untuk yang selalu mencemaskanku, untuk yang selalu lelah agar kaki ini selalu sampai di Depok, untuk yang tak pernah menolak permintaanku, dan entah berapa untuk lagi yang harusnya dapat terungkap, dan mungkin sampai saat ini aq tak cukup memberikan untuk kepadanya, hanya segumam doa, sampai diakhir lelahnya... maafkan.... akhirnya qu mengerti mengapa qu harus selalu berada di barisan ini, barisan kesholihan... Rabb... tempatkan ia di sebaik-baik tempat... maaf kan segala kekhilafannya... bahwa ia tak pernah menghalangi ku untuk tetap berada di barisan ini...  "bahkan qu tak sempat mengucapkan 'aq mencintaimu ayah' "