Posts

Showing posts with the label mypoem

Terakhir...untuk Mbahku Satu-satunya...

Image
di usia senjanya masih semangat terus berbuat sesuatu yang bermanfaat ke sawah, angon hewan-hewan ternaknya ia yang selalu membawakanku oleh-oleh ayam bakar racikannya sendiri hidangan singkong bakarnya yang selalu menghangatkan suasana pagi wonogiri ah mbah uti mbah ku satu-satunya engkaulah salah satu inspirasiku entah mengapa hati ini begitu sedih mendengar kabar kepergianmu innalillaahi wa innailaihi roji'uun terangilah kuburnya ya Allah ampuni khilaf dan dosanya... *3 hari setelah ulang tahun kami... hati ini benar-benar begitu sedih mendengarnya... 17-03-12

Dagelan Karyawan

lembaga itu beruntung mempunyai guru seperti mereka selalu menginginkan transfer ilmu yang maksimal sehingga rela mengorbankan recehnya untuk menunjang aturan baru aturan beriring denda namun tak berbarengan dengan sarana dan prasarana yang maksimal lembaga itu beruntung mempunyai guru seperti mereka rela meluangkan waktunya melayani belajar siswa tanpa dicatat dalam slip rupiah saat merasa tak seimbangnya tuntutan dan pengorbanan menghela nafas... Al-Ikhlas ngelirik berita fasilitas di gedung DPR *sewot

Hari ini Kau Manja Sekali Hujan

hari ini seakan kau ingin bermanja denganku... sore tadi ketika ku berangkat beli pisang pontianak dengan matic tiba-tiba kau mendatangiku tanpa berbayang walau ku menghindar ke pinggir Alfa, tetap saja kau berbaris rapi disepanjang jalan masih saja ku tunggu, namun kau tak meredakan rapatnya barisanmut namun aku harus berhasil membawa pesanan pisang penghuni rumah dan terpaksa ku izinkan kau bermanja mengelilingi jilbab, baju dan rok ku hari ini rasanya benar kau sedang ingin bermanja-manja... malam ini ketika ku berangkat membeli capcay surabaya depan gang seketika ku dengar kerumunan gemeritik saat ku melangkah keluar tenda tukang capcay sejenak ku hindari mu dengan tetap didalam tenda namun sang lambung telah merajuk dan dengan kepasrahanku lagi-lagi kau bermanja menyusup melalui jilbab, baju dan rok ku dan basah basah basah... kuyup kuyup kuyup... brrr.... puisi geje malem2 dingin dihangatkan capcay bermandi rindunya hujan....berkahi ya Allah...  

Puisi Untuknya

ketulusan senyummu lantakkan geramku sinar indah matamu ajari aku kelembutan kelembutanmu ajari aku cinta cinta tak pernah kecewa cinta yang bukan picisan cinta tak harap imbalan pertamaku mengenal cinta cinta yang tak dibalut kesedihan cinta yang selalu dekat walau raga menjauh cinta ini selalu ada cinta terbaik telah berhimpun pada-Nya cinta ku harap kelak tak pernah raga ini terpisah nanti... di kenikmatan abadi milik-Nya 27 mei 2005 sahabatku, pertamaku, terbaikku

Balada Dua Jiwa

kepak kepak kerinduan melesat dari manado, melewati tanah sulawesi, menyapa laut dan pulau jawa, menghinggapi hati bidadariku.. pun belum genap baru 2 hari,dan rinduku sudah berteriak keras pandanganku seketika meredup seakan terhalang sesuatu pendengaranku meriuh hingga sapa disekitarnya melemah mencari-cari linglung sebab apa semakin mendekat... tercium hawa tanah sulawesi nun disana barisan sayap menghampiri beriring teriak menguat dan sekejap menghembus membawa kerinduan menitip untuknya dari pinggir jawa

Telepati Kita

Telepati menghilangnya bukan berarti diam agar tiap langkah konvergen bukan kata-kata indah picisan merajuk yang menghias tapi biarlah lantunan syair-syair kalam-Nya sebagai perantara disetiap simpuh ketika kesungguhan untuk kebaikan tertanam, semut hingga hujan pun bersorai bagai massa oranye ketika tekad terpatri segala yang memperlambat pun ditinggalkan beriring senyuman hingga semua berujung... husnul khotimah barakallah... dan lagi satu sayap barisan ini siap dikembangkan dan yang ganjil pun menjadi genap ketika sabit mulai bergerak menuju purnama muharram dan ketetapan tinta Sang Penulis lah diatas segala rencana Telepati.... Meski diam bukan berarti hilang... Benar langkah tetap tertapak.. Sunyi mengunci gudang baris kata picisan... Dan biarlah penghias adalah kesejatian yang terindah... Sekarang senandung kalam yang mendayu di langit penantian... memerantara si pesimpuh... Bising kudengar suara di perenungan menanam kesungguhan... Tak percaya barisan oranye sedang bersorai ...

Surat untuk mas pandu

Apa kabar mas pandu… Bagaimana perasaan mu hari ini… Masihkah dahaga menyejukkan senin dan kamismu Masihkah dinginnya bersimpuh menghangatkan malam bintangmu Masihkah separuh matahari sejenakkan hiruk sibukmu Masihkah kelunya lembaran risalah memaniskan lisanmu   Apa kabar mas pandu… Bagaimana ketika kau melihat adikmu tak berhelai kerudung… Bagaimana ketika kaki mba mu tak berselimut kain… Bagaimana ketika celana jeans menempel pada sahabat saudari teman bercerita… Bagaimana ketika adik dambaan berdua tak lazim dengan mesra… Bagaimana… Bagaimana perasaanmu waktu itu…   Mungkin sama ketika menyadari… Mas pandu berjajar kikuk dekat dengan si adik bermerah jambu Memutuskan memilih meninggalkan lingkaran walaupun tak selalu Menyadari... Berbeda Apa kabar mas pandu btw, mas pandu itu siapa ya...he9    

sebuah alasan

sudah berapa keringat, harta, waktu, jiwa, yang telah kita persembahkan... tetapi mengapa belum juga terlihat sinarnya... kemenangan bukannya khayalan bahkan sebuah janji dari-Nya tapi, kadang kita lupa, bahwa kemenangan hanyalah dari-Nya musuh dan kita sama, hanya kita taat dan mereka membantah namun, mengapa belum juga terlihat sinarnya... mungkin tanpa sadar dan bahkan seakan tidak peduli terhadap perbuatan kita perbuatan yang dapat merusak amal-amal kita melalaikan qiyam kita, tilawah kita, hati kita... perbuatan yang bahkan membuat kemenangan itu semakin jauh dan kita tak sadar... atau mungkin tak peduli... Rabb... Faghfirli... “Sesungguhnya kemenangan kaum Muslimin itu semata-mata hanya karena ketaatan kita kepada Allah SWT. Jika kita jauh dari Allah dan tidak taat kepada Allah, maka kemenangan akan menjauh dari kita. ” (syekh Abu Bakar, mujahidin Palestina)